Beranda | Artikel
Anakku, Sayangi Dirimu
9 jam lalu

Anakku, Sayangi Dirimu merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 6 Ramadhan 1447 H / 24 Februari 2026 M.

Kajian Tentang Anakku, Sayangi Dirimu

Tidak diperbolehkan adanya penyesalan atau ketidaksukaan terhadap ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini dikarenakan Allah ‘Azza wa Jalla telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna sebagaimana firman-Nya:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin[95]: 4).

Larangan Berlaku Rasis dan Menghina Fisik

Umat Islam dilarang berlaku rasis, mencela, atau mengejek fisik orang lain. Pernah terjadi di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sahabat Abu Dzar Al-Ghifari merendahkan seseorang karena warna kulit ibunya yang hitam. Mendengar hal itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegur dengan keras:

أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

“Apakah engkau mencelanya karena ibunya? Sesungguhnya engkau adalah orang yang masih memiliki sifat jahiliah.” (HR. Bukhari).

Merendahkan orang lain karena fisiknya merupakan ajaran jahiliah yang harus ditinggalkan. Setiap manusia wajib menghargai dan menghormati sesama tanpa memandang perbedaan fisik karena semuanya adalah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menumbuhkan Rasa Syukur dengan Melihat ke Bawah

Anak perlu dibiasakan untuk melihat orang yang kondisinya berada di bawah mereka dalam masalah dunia, bukan mendongak ke atas. Kebiasaan ini akan memupuk rasa syukur sehingga nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak dianggap remeh. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim)

Orang tua sebaiknya berpesan kepada anak agar tidak menunggu merasa cantik atau tampan untuk bersyukur. Justru dengan bersyukurlah, seseorang akan mendapati bahwa dirinya adalah pribadi yang rupawan.

Tubuh adalah Amanah yang Terikat Aturan

Tubuh manusia bukanlah milik pribadi yang bisa diperlakukan sesuka hati. Di dalamnya terdapat aturan-aturan syariat yang harus dipatuhi. Islam melarang tindakan merusak atau mengubah fitrah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa alasan medis yang dibenarkan, seperti mentato tubuh, mengerik alis, mengikir gigi, atau menjarangkan gigi.

Tindakan mengubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan salah satu tipu daya setan untuk menyesatkan anak Adam:

وَلَاٰمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللّٰهِ

“… dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah (lalu mereka benar-benar mengubahnya).” (QS. An-Nisa[4]: 119).

Mengubah fisik demi estetika yang dilarang atau menjerumuskan diri ke dalam kerusakan merupakan bentuk kebinasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-Nya untuk mencelakakan diri sendiri:

وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ

“… dan janganlah kamu jatuhkan (diri kamu) ke dalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri.” (QS. Al-Baqarah[2]: 195)

Manusia dilarang memudaratkan diri sendiri maupun orang lain. Prinsip ini sejalan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah).

Lihat juga: Khutbah Jumat Tidak Boleh Memberikan Mudharat

Menjaga kesehatan tubuh serta memelihara fitrah yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan merupakan bentuk syukur atas amanah yang diberikan-Nya. Seseorang yang amanah dan bersyukur akan ditambah nikmatnya oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Kesehatan adalah aset yang sangat berharga. Terkadang, ujian berupa penyakit datang karena manusia melanggar fitrah dan keluar dari apa yang diperintahkan Allah. Oleh karena itu, tubuh harus diperlakukan sesuai dengan syariat-Nya.

Laki-laki hendaknya menjaga fitrah fisik yang telah dianugerahkan, salah satunya adalah dengan memelihara jenggot. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan hal tersebut sebagai bentuk amanah dalam memperlakukan tubuh sesuai kehendak Pencipta yakni Allah ‘Azza wa Jalla. Seseorang tidak sepatutnya beralasan bahwa wajah dan jenggot adalah milik pribadi sehingga bebas untuk dicukur, karena pada hakikatnya manusia adalah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lihat juga: 10 Perkara Yang Termasuk Fitrah

Anak-anak perlu diberi pengertian agar mereka tumbuh dengan kesadaran untuk menjaga fitrah, baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Selain aspek rohani, karakter, dan sifat, penjagaan terhadap jasmani merupakan kewajiban yang harus diemban oleh setiap hamba.

Allah Maha Indah dan Menyukai Keindahan

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Zat Yang Maha Indah dan Dia menyukai keindahan. Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَال

“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim).

Fisik yang sempurna adalah nikmat yang harus dijaga dengan cara melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Segala perkara yang dilarang pasti membawa mudarat, baik disadari maupun tidak. Sebagai teladan terbaik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan contoh nyata dalam menjaga kesehatan dan merawat tubuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21).

Sebagai contoh, bagi seseorang yang memilih untuk memelihara rambut, ia wajib menjaga kebersihan dan kerapiannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ

“Barang siapa yang memiliki rambut, hendaklah ia memuliakannya.” (HR. Abu Dawud).

Memuliakan rambut berarti merawatnya, seperti yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan meminyaki dan menyisirnya, bukan membiarkannya kotor atau tidak teratur. Selain itu, terdapat pula amalan sunanul fitrah lainnya, seperti memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, serta memotong kumis.

Kebersihan tubuh secara keseluruhan juga menjadi perhatian utama dalam Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Kesucian (kebersihan) itu adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari keimanan.” (HR. Muslim)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat menjaga kebersihan mulut dengan bersiwak sebelum tidur, setelah bangun tidur, bahkan setiap kali hendak melaksanakan salat. Hal ini dilakukan untuk menjaga aroma dan kebersihan mulut agar memberikan kenyamanan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Ikhtiar Menjaga Kesehatan sebagai Pola Hidup

Menjaga kesehatan merupakan sebuah pilihan dan ikhtiar yang harus diusahakan, bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Salah satu bentuk usaha tersebut adalah memupuk kesadaran anak untuk rutin berolahraga. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara khusus mengajak keluarga beliau untuk berolahraga, seperti saat beliau berlomba lari dengan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha atau saat beliau melakukan aktivitas gulat.

Aktivitas luar ruangan seperti berkuda, memanah, dan berenang memiliki manfaat besar bagi tubuh. Pada dasarnya, hukum asal olahraga adalah mubah (boleh) selama tidak mengandung unsur yang diharamkan, seperti membuka aurat, perjudian, atau risiko ekstrem yang membahayakan nyawa secara berlebihan.

Elemen-Elemen Penunjang Kesehatan

Kesehatan merupakan kombinasi dari berbagai elemen yang saling mendukung, bukan hanya ditentukan oleh satu faktor tunggal. Kesadaran ini harus ditanamkan sejak dini melalui beberapa poin utama:

  1. Menjaga Kebersihan: Kebersihan lingkungan dan tubuh adalah faktor penentu kesehatan.
  2. Nutrisi yang Baik: Mengonsumsi makanan yang halalan thayyiban (halal dan baik).
  3. Olahraga Teratur: Menghindari budaya malas bergerak (mager).
  4. Istirahat yang Cukup: Mematuhi fitrah waktu yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan.

Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan malam sebagai waktu untuk beristirahat, maka hendaknya malam digunakan untuk tidur dan tidak begadang tanpa tujuan yang jelas. Salah satu kebiasaan yang terlihat sepele namun berpengaruh besar bagi kesehatan adalah tidur siang (qailulah). Meskipun hanya dilakukan selama 15 menit, pengaruhnya bagi kebugaran tubuh sangat luar biasa. 

Kedudukan Pengobatan dan Pola Hidup

Banyak orang salah paham dengan menganggap bahwa cukup dengan mengkonsumsi herbal atau melakukan bekam saja kesehatan akan terjaga. Namun, jika faktor lain seperti pola makan, olahraga, dan jam istirahat diabaikan, maka pengobatan tersebut tidak akan maksimal. Hal ini pernah terjadi pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat seseorang mengadukan sakit perut saudaranya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk memberi madu, namun penyakitnya tak kunjung sembuh hingga pemberian ketiga. Beliau kemudian bersabda:

صَدَقَ اللهُ وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ

“Maha Benar Allah (bahwa madu adalah obat) dan perut saudaramu itulah yang bermasalah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sehat dalam pandangan Islam adalah sebuah pola hidup menyeluruh, mencakup aspek jasmani dan rohani (ketenangan hati melalui zikir). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki kondisi fisik yang sangat ideal. Perut beliau tampak rata dan kencang, langkah kaki beliau pun tegak, tidak loyo, dan berjalan dengan kecepatan seperti orang yang sedang menanjak. Kekuatan fisik tersebut merupakan hasil dari perpaduan pola hidup yang sangat sehat, mulai dari pengaturan asupan makanan, pola istirahat, aktivitas fisik atau olahraga, hingga penjagaan kebersihan yang sangat disiplin.

Kebersihan Lingkungan sebagai Pangkal Kesehatan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan umatnya untuk menjaga kebersihan lingkungan, bahkan mulai dari area pekarangan rumah. Beliau bersabda:

طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا

“Bersihkanlah pekarangan kalian, karena sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak membersihkan pekarangan mereka.” (HR. Ath-Thabrani).

Lingkungan yang bersih merupakan faktor penentu kesehatan. Tempat tinggal yang kotor dipastikan menjadi sumber berbagai penyakit. Jika pekarangan saja terjaga kebersihannya, maka bagian dalam rumah, seperti dapur dan toilet, semestinya jauh lebih bersih. Di beberapa tempat, terdapat budaya meletakkan dapur di bagian depan rumah untuk memastikan kebersihannya selalu terpantau dan tidak terabaikan sebagaimana jika diletakkan di bagian belakang yang tersembunyi.

Kedisiplinan dalam Memilih Makanan

Kesehatan adalah kombinasi dari berbagai faktor, sehingga seseorang tidak boleh hanya fokus pada satu sisi dan mengabaikan sisi lainnya. Mengonsumsi makanan yang tidak sehat atau berlebihan harus dihindari. Makanan yang haram sudah pasti membawa mudharat bagi tubuh dan jiwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan bangkai dan daging babi, maka setiap muslim harus berusaha sekuat tenaga menjauhi makanan haram tersebut dan tidak menggunakan alasan darurat jika kondisinya memang tidak mendesak.

Selain memastikan kehalalannya secara agama, makanan juga harus dipastikan baik (thayyib) bagi kondisi tubuh masing-masing. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menolak memakan dhab (sejenis kadal gurun). Penolakan tersebut bukan karena hukumnya haram, melainkan karena beliau tidak terbiasa memakannya dan mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan pribadi. Beliau sangat selektif dan tidak asal dalam mengonsumsi makanan.

Kepatuhan terhadap Ahli dan Tata Cara Makan

Seseorang yang tetap mengkonsumsi makanan pantangan medis dengan alasan telah membaca “Bismillah” merupakan pandangan yang keliru. Islam mengajarkan umatnya untuk mengembalikan segala urusan kepada ahlinya. Jika dokter menganjurkan untuk menghindari makanan tertentu demi kesehatan, maka hal tersebut harus dipatuhi. Tawakal yang benar adalah melakukan ikhtiar yang tepat, bukan mengabaikan peringatan medis dengan dalil agama yang tidak pada tempatnya.

Pola makan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat teratur dan penuh kehati-hatian. Salah satu anjuran beliau terkait adab makan adalah tidak mengonsumsi makanan yang masih sangat panas karena dapat merusak kesehatan organ pencernaan. Beliau bersabda:

أَبْرِدُوا الطَّعَامَ الْحَارَّ فَإِنَّ الطَّعَامَ الْحَارَّ غَيْرُ ذِي بَرَكَةٍ

“Dinginkanlah makanan kalian, karena sesungguhnya makanan yang panas tidak memiliki keberkahan.” (Al-Mustadrak ‘ala al-Sahihayn oleh Al-Hakim)

Dengan mendinginkan makanan hingga layak dimakan, seseorang telah menjaga amanah berupa organ tubuh dari kerusakan. 

Menjaga kesehatan tubuh memerlukan pola hidup yang teratur sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seseorang tidak boleh berasumsi bahwa kesehatan cukup didapatkan hanya dari satu jenis pengobatan, seperti rutin melakukan bekam atau fasdu, sementara faktor penunjang lainnya diabaikan. Pandangan yang bersifat parsial atau sepihak dalam menjaga tubuh sering kali menjadi penyebab kegagalan dalam meraih kesehatan yang optimal.

Hal ini mengingatkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika madu belum memberikan kesembuhan pada seseorang karena kondisi penyakitnya yang sudah berat atau adanya faktor kesehatan lain yang dilanggar:

صَدَقَ اللهُ وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ

“Maha Benar Allah (bahwa madu adalah obat) dan perut saudaramu itulah yang bermasalah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Melawan Budaya Malas dan Menjaga Amanah Tubuh

Gaya hidup bermalas-malasan atau mager (malas gerak) serta enggan berolahraga merupakan kebiasaan yang merugikan. Berbeda dengan rasa lapar yang memiliki alarm alami dari perut, kebutuhan tubuh untuk berolahraga seringkali diabaikan meskipun raga sudah memberikan tanda berupa rasa pegal, mudah lelah, dan gerakan yang melambat. Kesehatan bukan sesuatu yang turun begitu saja dari langit, melainkan sebuah pilihan dan hasil dari usaha yang sungguh-sungguh.

Apabila jatuh sakit, seorang hamba tidak boleh menyalahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Etika yang diajarkan dalam Al-Qur’an melalui lisan Nabi Ibrahim Alaihis Salam menunjukkan bahwa penyakit sering kali merupakan akibat dari kelalaian manusia sendiri:

وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 80).

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa saat manusia sakit karena melanggar aturan kesehatan, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mampu memberikan kesembuhan.

Produktivitas Seorang Muslim dan Perlindungan dari Sifat Malas

Seorang muslim sejati bukanlah pribadi yang malas. Al-Qur’an memotivasi setiap mukmin untuk selalu produktif dan berpindah dari satu aktivitas bermanfaat ke aktivitas lainnya:

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (QS. Asy-Syarh[94]: 7).

Islam mengatur adanya waktu untuk beraktivitas dan waktu untuk istirahat secara seimbang. Mukmin tidak menghabiskan waktu seharian hanya untuk tidur atau bermalas-malasan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahkan mengajarkan doa pagi dan petang agar umatnya terhindar dari sifat malas serta dampak buruk di masa tua:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat malas dan keburukan di masa tua.” (HR. Muslim).

Terdapat kaitan erat antara kemalasan di masa muda dengan masa tua yang buruk. Seseorang yang memilih untuk tidak malas di masa mudanya, dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla, akan terhindar dari kesulitan dan kondisi fisik yang buruk di masa tuanya. Menjaga kesehatan dengan disiplin adalah bentuk nyata dari upaya meraih masa tua yang berkualitas.

Menanamkan Pola Hidup Sehat Sejak Dini

Gaya hidup bermalas-malasan atau begadang tanpa alasan yang dibenarkan bukanlah pola hidup seorang muslim. Hal-hal ini perlu dilatih kepada anak agar mereka mampu menjalani pola hidup yang benar sebagai bentuk syukur atas nikmat sehat dan ikhtiar untuk menjaganya. Meskipun kondisi fisik anak-anak umumnya masih prima dan belum mengalami gangguan kesehatan seperti kolesterol atau gula darah, kebiasaan hidup sehat harus dibentuk sejak kecil.

Segala sesuatu dapat terlaksana karena adanya pembiasaan. Jika anak dibiarkan malas dan bermain gawai seharian, perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan yang menetap. Demikian pula dengan kebiasaan makan sembarangan serta tidak menjaga kebersihan diri. Ketidakteraturan pola hidup sejak kecil akan terbawa hingga dewasa, yang pada akhirnya sering kali memunculkan penyesalan di masa tua ketika berbagai penyakit mulai timbul.

Istirahat dan Ketenangan Hati

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan malam hari sebagai waktu untuk beristirahat bagi manusia. Di samping faktor fisik, terdapat faktor nonfisik yang sangat penting dalam menjaga kesehatan, yaitu senantiasa berpikir positif serta memperbanyak zikir dan doa. Ketenangan hati yang diperoleh melalui zikir berdampak besar pada kesehatan secara menyeluruh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 28).

Seorang anak harus memiliki kesadaran untuk menyayangi dirinya sendiri. Dengan kesadaran tersebut, anak akan lebih menghargai dirinya dan mampu menjaga fitrah yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala titipkan. Salah satu tujuan Islam diturunkan adalah untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya, sementara setan senantiasa berusaha merusak dan mengeluarkan manusia dari fitrah tersebut.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56106-anakku-sayangi-dirimu/